Jumat, 01 Februari 2013

Islam, Iman dan Ihsan



Umar bin Khatab ra. berkata:

“Suatu hari, kami duduk di dekat Rasulullah saw., tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam legam. Tak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di depan Nabi, lututnya ditempelkan ke lutut beliau, dan kedua tangannya diletakkan di paha beliau, lalu berkata, ‘Hai Muhammad! Beritahu aku tentang Islam.’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah, jika engkau mampu.’ Laki-laki itu berkata, ‘Benar.’ Kami heran kepadanya; Bertanya, tapi setelah itu membenarkan jawaban Nabi?!

Ia bertanya lagi, ‘Beritahu aku tentang Iman.’ Nabi menjawab, ‘Iman itu engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan takdir, yang baik atau yang buruk.’ Ia berkata, ‘Benar.’ Dia bertanya lagi, ‘Beritahu aku tentang Ihsan.’ Nabi menjawab, ‘Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.’
Laki-laki itu berkata lagi, ‘Beritahu aku kapan terjadinya Kiamat.’ Nabi menjawab, ‘Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.’ Dia pun bertanya lagi, ‘Beritahu aku tanda-tandanya!’ Nabi menjawab, ‘Juka seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, orang yang bertelanjang kaki dan tidak memakai baju (orang miskin), dan penggembala kambing saling berlomba mendirikan bangunan megah.’
Kemudian laki-laki itu pergi.
Aku diam beberapa waktu.
Setelah itu, Nabi bertanya kepadaku, ‘Hai Umar, tahukah kamu siapa uang bertanya tadi?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui .’ Beliau bersabda, ‘Dia itu Jibril, dating untuk mengajarkan Islam kepada kalian.” (H.R. Muslim)

Ahammiyatul Hadits (Urgensi Hadits)
Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata, “Hadits ini sangat penting meliputi semua amal perbuatan, yang dhahir dan yang batin, bahkan semua ilmu syari’at mengacu padanya, karena memuat segala hal yang ada dalam semua hadits, bahkan seakan menjadi Ummus-Sunnah (induk bagi hadits), sebagaimana surat Al-Fatihah disebut Ummul-Qur’an karena ia mencakup seluruh nilai-niai yang ada di dalam Al-Qur’an.
Hadits ini mutawatir karena diriwayatkan dari 8 Sahabat ra.: Abu Hurairah ra., Umar ra., Abu Dzar ra., Anas ra., Ibnu Abbas ra., Ibnu Umar ra., Abu ‘Amir, Al-Asy’ari, dan Jarir Al-Bajali ra.

Fiqhul Hadits (Kandungan Hadits)

1.       Memperbaiki pakaian dan penampilan.
Ketika hendak masuk masjid dan akan meghadiri majelis ilmu, disunnahkan memakai pakaian yang rapi, bersih dan memakai minyak wangi. Bersikap baik dan sopan di majelis ilmu dan di hadapan pada ulama adalah perilaku yang sangat baik, karena Jibril saja dating kepada Nabi Muhammad saw. dengan penampilan dan sikap yang baik.

2.       Definisi Islam
Secara etimologis, Islam berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya kepada Allah swt.. Secara terminology, adalah agama yang dilandasi oleh lima dasar, yaitu:
a.      Syahadatain
b.  Menunaikan shalat wajib pada waktunya, dengan memenuhi syarat, rukun dan memperlihatkan adab dan hal-hal yang sunnah.
c.       Mengeluarkan zakat
d.      Puasa di bulan Ramadhan
e.      Haji sekali seumur hidup bagi yang mampu, mempunyai biaya untuk pergi ke tanah suci dan mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan

3.       Definisi Iman
Secara etimologi, Iman berarti  ‘pengakuan atau pembenaran’. Secara tereminologi, berarti ‘pembenaran dan pengakuan yang mendalami akan:
a.       Adanya Allah swt., Pencipta alam semesta yang tidak mempunyai sekutu apapun.
b.     Adanya makhluk Allah swt. yang bernama Malaikat. Mereka adalah hamba Allah yang mulia, tidak pernah melakukan maksiat dan selalu menuruti perintah-Nya. Mereka diciptakan dari cahaya, tidak makan, tidak berjenis (laki-laki ataupun perempuan), tidak mempunyai keturunan dan tidak ada yang tahu jumlahnya kecuali Allah swt..
c.    Adanya kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah swt., dan meyakini bahwa kitab-kitab tersebut (sebelum diubah dan diselewengkan manusia) merupakan syari’at Allah.
d.      Adanya rasul-rasul yang telah diutus oleh Allah, yang dibekali dengan kitab samawi, sebagai perantara untuk memberikan hidayah pada umat manusia. Meyakini bahwa mereka adalah manusia biasa yang diistimewakan dan ma’shum (terjaga dari segala dosa).
e.  Adanya Hari Akhir. Pada hari itu, Allah membangkitkan manusia dari kuburnya, lalu diperhitungkan seluruh amal perbuatannya. Amal perbuatan yang baik akan dibalas dengan kebaikan, dan amal perbuatan yang buruk dibalas dengan keburukan.
f.        Adanya Qadha dan Qadar. Artinya, apapun yang terjadi pada alam semesta ini merupakan ketentuan dan kehendak Allah semata, untuk satu tujuan yang hanya diketahui-Nya.
Inilah rukun-rukun Iman. Siapapun yang meyakini, maka ia akan selamat dan beruntung dan barangsiapa yang menentangnya maka ia akan sesat dan merugi. Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang mukmin, berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, kitab suci yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya (Muhammad saw.) dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya dan hari Kiamat, maka sungguh ia benar-benar tersesat.” (An-Nisa’: 136)

4.       Islam dan Iman
Melalui penjelasan di atas maka kita pahami bahwa Iman dan Islam adalah dua hal yang berbeda, secara etimologi maupun secara terminology. Pada dasarnya, jika berbeda nama tentu berbeda makna. Meskipun demikian, tidak jarang dipergunakan dengan arti yang sama, Islam berarti Iman, dan sebaliknya. Keduanya saling melengkapi. Iman menjadi sia-sia tanpa Islam, demikian pula sebaliknya.

5.       Definisi Ihsan
Ihsan adalah ikhlas dan penuh perhatian. Artinya sepenuhnya ikhlas untuk beribadah kepada Allah dengan penuh perhatian sehingga seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika tidak mampu, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa melihatmu dan mengetahui apapun yang ada pada dirimu.

6.       Hari Kiamat dan Tanda-tandanya
Tibanya hari Kiamat adalah rahasia Allah swt.. Tidak satu makhlukpun mengetahuinya, baik malaikat maupun Rasul. Karenanya, Nabi saw. bersabda kepada Jibril, “TIdaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Meskipun demikian, Nabi Muhammad saw. menjelaskan sebagian tanda-tandanya, antara lain:
a.   Krisis moral, sehingga banyak anak yang durhaka pada orang tuanya, mereka memperlakukan orang tuanya seperti perlakuan tuan terhadap budaknya.
b.    Kehidupan yang jungkir balik. Banyak orang bodoh menjadi pemimpin, pemberian wewenang kepada orang yang tidak mempunyai kemampuan, harta melimpah, manusia banyak yang berlaku sombong dan berfoya-foya, bahkan mereka berlomba dan saling meninggikan bangunan dengan penuh kebanggaan. Meerka berlaku congkak pada orang lain, bahkan mereka seakan ingin menguasainya.

7.       Etika bertanya
Seorang muslim, akan menanyakan sesuatu yang membawa manfaat bagi dunia dan akhiratnya. Ia tidak akan menanyakan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat. Baig orang yang menghadiri sebuah majelis ilmu lalu ia melihat bahwa audiens (orang-orang yang hadir di situ) ingin mengetahui suatu hal. Ternyata masalah tersebut belum ada yang menanyakan, maka sepatutnya ia menanyakan meskipun ia sudah mengetahuinya agar orang-orang yang hadir bias mengambil manfaat dari jawaban yang diberikan.
Orang yang ditanya tentang suatu hal, dan ia tidak mengetahui jawabannya, hendaklah ia mengakui ketidaktahuannya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang ia tidak mengetahuinya.

8.       Metode tanya jawab
Pendidikan modern pun mengakui bahwa metode tanya jawab adalah metode pendidikan yang relative berhasil, karena memberikan tambahan semangat pada diri pendengar untuk mengetahui jawaban yang akan diberikan. Metode ini sering dipergunakan Rasulullah saw. dalam mendidik generasi Sahabat ra.

~Al-Wafi~

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda